satu kali dua puluh empat jam

Jumat, 27 Desember 2013

Ini bukan perjalanan pertama kali untuk tujuan yang seperti ini, segala ini dilakukan krn mengalah dalam hal kedewasaan. 

Dimulai dengan perjalanan jam 11 malem berangkat dari medan ke tujuan, 6 jam duduk di dalam kereta api, bisa bayangin gimana ya. Skip aja. 
Next sampai tujuan tepat pukul 5 pagi. Dingin. Perjalanan blm selesai, ke tempat tujuan utama harus menaiki bus lagi selama 2 jam. Bisa bayangin lagi remuk nya badan ini. 

Rencana awal segala sesuatu udah di persiapkan utk mengakhiri krn udah ga mungkin bisa sama sama lagi.
Malam hari terjadi sesuatu yg tidak direncanakan dari tujuan, namun krn memang tuhan tidak berkehendak ini tidak terjadi.
Keesokan harinya, hari yang ditunggu tunggu untuk melangsungkan rencana yang udah mateng mateng. 
Janji dateng jam segini, kenyataannya jam segitu. Dalem hati itu badmood nya ga ada obat.
Akhirnya datenglah orang berbaju sweater ungu dengan kaos orange didalamnya dengan postur tubuh yang saya idam idamkan selama ini. 
Sebut saja dia dengan panggilan windi. 
Antara ruang tamu dan kamar. Ya gamau keluar krn badmoodnya blm terkontrol.
Akhirnya keluar menuju ruang makan, saya suruhlah si windi ke ruang makan. Akhirnya, pertemuan itu terjadi. Jantung saya berdegup kencang krn udah sekitar 3 bulan saya tidak bertemu dengannya.
Untuk menatap matanya saja tidak berani. 
Bingung gimana langsung ke pokok masalah, akhirnya pergi bersama 2 orang wanita dan menjadi 3 krn saya, dan 2 laki laki.
Kejadian 2 tahun yang lalu di kendaraan itu terjadi lagi waktu ini, bedannya when he hold my hand i feel like he save me, kalo kata anak gaul twitter. 
Rasa nyaman yang luar biasa yang saya rasakan saat itu.
Tempat makan pun sampai.
"Kamu mau makan apa?"
Teh manis, itu jawabku.
FYI ya kata windi teh manis itu minuman bikin malu, katanya dia malu bawa aku krn cuma minum teh manis HAHA.
Okelah, kami pun makan, dengan jatah saos yang saya jatah untuk windi.
Makan selesai mulailah windi gelisah, senggol senggol gak jelas, akhirnya dia berkata "windi beli ya rokok, boleh ya", tolong deskripsikan saja muka saya...
"Boleh, belilah" ucap saya.
Setelah dibeli windi duduk berjarak hampir satu meter krn dia takut asap nya membuat paru paru saya rusak (asyelole).
Pulang, sampai dirumah, inilah hal utama serius yang menjadi tujuan perjalanan ini terlaksana. Ya serius dimulai, geram nya wkt berbicara itu ga ada obat.
Percakapan dan kejadian hal itu di skip saja krn tuhan windi dan saya saja yang tau. 
Akhirnya, windi mau pulang, dengan muka yang agak agak ga rela, windi pun jd ga tega, tapi besok windi harus bekerja, egois harus di hilangkan.
Then, saat berjabatan tangan seakan tangan tidak mengizinkan windi pulang, genggaman itu makin erat dan berujung pada kecupan yang mendarat di kening saya. 
Hal itu terjadi lagi. 
Windi pulang ya...
Perjalanan itu terhenti. Dan inilah akhir dari tujuan ini.

Win, ana uhibbuki fillah ya windi❤

21 sampai 22

Minggu, 22 Desember 2013

Bilang sama malaikat jangan pernah ingatkan saya tentang malam itu. Malam dimana segala sesuatu yg dahulu saya pikir tidak akan pernah terjadi, pada malam itu terjadi. 


Malam itu sungguh berharga. Tidak pernah saya lakukan sebelum nya, walaupun saya tau itu hanya berjalan hanya beberapa jam. Setelah jam itu berlalu, maka semua akan seperti biasa.
Saya memang ingin mengucapkan terimakasih, tapi saya ingin melupakan malam itu. Sungguh

Tak perlu saya jelaskan malam yang berharga itu, yg saya bisa beri tau adalah saya bagaikan perempuan yang takut apabila perempuan itu pergi. Terimakasih untuk memegang tgn saya ketika malam itu terasa dingin. Terimakasih untuk jabatan terakhir yang menggeggam erat seolah tidak ingin terlepas.

Tapi sungguh saya ingin melupakan itu. Bantu saya utk lupa.
Setabah-tabahnya rindu. Setulus-tulusnya kehilangan. Seikhlas-ikhlasnya merelakan. Sebisa aku memaknai kamu, cinta, dan kepergian tanpa rengekan.

Terimakasih untuk dua tanggal diatas. 
Jangan pernah datang lagi ke sini, ke hati ini.

Blogger news